Membentuk Tameng Perlindungan : Jangan Terbius Oleh Pandemi! #MentalImmuneSystem #LawanCovid19

Adanya pandemi global virus Covid-19 membuat lesu hampir di semua sektor tidak hanya di Indonesia, namun di hampir seluruh negara, banyak perusahaan yang tidak mampu menopang cashflow dan dengan berat hati melakukan PHK. Kebijakan pemerintah melakukan pembatasan sosial berskala besar, atau pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah menyebabkan aktivitas perekonomian terganggu. Begitupun di tempat saya bekerja di Jakarta, Peraturan Gubernur DKI Jakarta untuk menerapkan PSBB, dengan sigap manajemen perusahaan, tempat saya bekerja mengeluarkan surat edaran yang menghimbau seluruh karyawan di unit kantor pusat agar bisa bekerja dari rumah sejak tanggal 23 maret 2020.

Kita harus terus bergerak meski ada pandemi Covid-19, menggerakkan badan, maupun gerak mental setiap hari. Salah satu hikmah penting dengan adanya Covid-19, kita bisa hadir seutuhnya bersama keluarga, dan meningkatkan rasa simpati dan empati untuk saling gotong royong dalam membantu sesama.

Di sela-sela waktu saya melakukan kegiatan #StayAtHome dan mengikuti anjuran manajemen perusahaan untuk #WorkFromHome, saya merasa banyak blessing dan menerimanya dengan rasa suka cita dan syukur. Salah satu hal yang begitu membahagiakan yakni lebih sering berkumpul bersama keluarga di rumah, bahu-membahu untuk menyelesaikan tugas rumah, dan ‘mendengar’ melakukan komunikasi intens dengan istri, dan tentunya bisa mengajari kedua anak saya belajar dari rumah, yess! mereka pun juga melakukan learning from home sesuai anjuran pihak sekolah.

Happiness is talking to Allah SWT.

Happiness is talking to Allah SWT.

Adanya waktu luang selepas menjalankan #WorkFromHome, maka saya pun berkomitmen tuk memanfaatkan waktu dengan mengejar insight baru, salah satunya : mengikuti online marketing class dari MarkPlus, mengikuti free english course di www.coursera.org, dan yang lebih istimewa lagi, saya memperoleh kesempatan tuk mengikuti kuliah online “Super Amazing” dari Coach bapak Amin Leiman, Membentuk Tameng Perlindungan: Jangan Terbius Oleh Pandemi di awal April 2020. Kenapa sebegitu istimewanya bagi saya mengikuti kelas pak Amin Leiman? Bukan karena free coursenya, akan tetapi saya mengidolakan gaya & pengalaman coaching beliau yang sangat implementatif untuk dunia kerja pada saat saya mengikuti pelatihan Agile Done Well di Jakarta tahun 2019 yang diselenggarakan oleh ITS Tekno Sains.

Kuliah online bapak Amin dilangsungkan selama 7 minggu, dengan mata kuliah: Certified Mental Energizer (CME), dimulai dengan kelas perdana pada 6 April 2020 secara teleconference by ZOOM, dengan 1 hari sesi presentasi dan 6 hari untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas bersama partner yang sama-sama mengikuti kelas beliau.

Saya coba ulas penugasan sesi kuliah ketiga, dengan topik : Mental Immune System.

Mental Immune Systems : Refresh your mind and be happy, lakukan setiap hari.

Umroh Keluarga - Spiritual Activity

Umroh Keluarga, Kegiatan Spiritual "Refresh Ur Mind & Be Happy"

Topik ini menjelaskan bagaimana kita me-training pikiran untuk melihat sesuatu yang baik dalam setiap situasi, kapanpun dan dimanapun berada.

Ada 3 aspek penting dalam Mental Immune Systems : appreciative questioning, managing your “fud” factors, dan daily affirmation.

Saya coba kutip quote bagus yang menurut saya relevan di tengah pandemi saat ini :

“People, organizations, and communites move in the direction of what we most frequently and systematically ask questions about!” -David Cooperrider.

Quote ini menjelaskan bagaimana kita bisa mengalihkan fokus pertanyaan kepada orang lain pada kekuatan atau keberhasilan untuk menciptakan masa depan yang penuh harapan. Dengan begitu, sebuah organisasi dapat sukses, berkembang, apabila kita fokus yang paling sering dan sistematis kita pertanyakan.

Salah satu aspek penting dalam Mental Immune System yakni Appreciative Questioning. Sebagai penanya atau inteviewer dituntut untuk dapat memberikan pertanyaan apresiatif, dengan menggunakan bahasa atau pertanyaan positif kepada interviewee (orang yang diwawancarai). Dan apabila interviewee memberikan jawaban, tanggapan yang negatif, maka peran interviewer untuk dapat mengarahkan ke jawaban positif.

Appreciative question atau orang mengenal dengan appreciative inquiry didasari oleh rasa keingintahuan dari interviewer, dimana interviewee dengan pikiran terbuka memberikan jawaban. Tak hanya itu, proses penyelidikan dilakukan oleh interviewer dengan tujuan memperoleh pembelajaran baru dari interviewee sekaligus pengetahuan baru bagi interviewer. Sehingga didapatkan perubahan berkelanjutan bagi keduanya.

Bersyukur >> memberi apresiasi >> penguatan nilai – nilai individu dan organisasi >> sehingga memperoleh antusiasme serta rasa memiliki akan pekerjaan serta organisasi.

Salah satu tugas ke-6 dari sesi kuliah pak Amin, Membentuk Tameng Perlindungan : Mental Immune System, aspek : Appreciative Questioning, dimana kita ditugaskan memberikan pertanyaan bernuansa positif, provokatif, dan generatif yang mengetuk isi hati, menggugah rasa kebahagiaan, dan merangsang energi positif untuk bergerak bersama partner kita.

Untuk partner tugas ke-6, saya bersama dengan ibu Muna, sosok profesional yang mencintai keluarga. Saling memberi Appreciative Question dan mendengar tanggapan positif dari beliau, memberikan pencerahan dalam sesi ini.

Saya dan mbak Muna mulai menggulirkan pertanyaan dengan pendekatan asking appreciative question. Dimulai dengan saya sebagai interviewer dan mbak Muna sebagai interviewee, secara selang seling dan kami menuliskannya dalam sebuah cerita, seperti yang saya lakukan di tulisan ini.

Hal terbaik apa yang terjadi padamu minggu lalu ? Dan kami pun memberi jawaban yang bisa disimpulkan sama, adanya waktu lebih banyak dirumah ketika #WorkFromHome, sehingga kami bisa hadir secara utuh bersama keluarga masing-masing. Saya yang kebetulan baru ada si baby kecil, sehinga kerap menemani istri begadang di malam hari, sementara mbak Muna memiliki ide merenovasi rumah bersama sang suami.

Pertanyaan kedua, mbak Muna bertanya kepada saya, apa cerita yang paling menginspirasi yang anda alami selama mengikuti program pak Amin, Certified Mental Energizer (CME) ? Kami menyebutnya “pencerahan”, setelah ikut CME ini banyak renungan berharga, seperti saya lebih banyak mendengar dan menyimak apa yang istri dan anak bincangkan ke saya, sementara mbak Muna merasa bersyukur bertemu dengan orang-orang yang berbagi positive vibes positive life, kita menjalani hidup lebih optimis sesama partner kuliah pak Amin ini.

Pertanyaan demi pertanyaan dengan pendekatan asking appreciative questions kembali digulirkan, kali ini mengenai : apa aspek paling menarik dari tugas anda minggu ini ?, pertanyaan ini menarik selama mengikuti kelas CME, karena masing-masing peserta diharuskan untuk sharing dan memberikan feedback, serta dengan adanya tugas mingguan, peserta menjadi fully engaged, fokus ke schedule dan target. Menurut saya aspek paling menarik adanya perubahan cara pandang dalam menyikapi hal, mencerna, memproses, dan menyikapi dengan positive mindset. Mbak Muna memiliki tanggapan tersendiri, yakni tugas ini memaksa kita untuk melakukan komunikasi secara visual dengan partner.

Dari pertanyaan ini, kita diminta untuk dapat menentukan kearifan kolektif. Apa kearifan kolektif yang anda temukan dengan partner ? Hal yang kami sepakati bersama ketika #WorkFromHome dalam bayang-bayang pandemi Covid-19 ini bisa dibilang blessing in disguise, keberkahan yang datang secara tiba-tiba, tersamar yakni adanya waktu lebih banyak bersama keluarga untuk quality time, dan lebih menghargai waktu karena waktu sangat berharga.

Kami belajar menggali insight baru dari setiap pertanyaan yang akan diajukan, percakapan yang dilakukan by ZOOM di tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan, menjadikan obrolan tersebut penuh pendalaman dan perenungan. Secara perlahan memaknai tiap-tiap pertanyaan yang diajukan kepada partner. “Bagaimana perasaan anda ketika dalam posisi terbaik minggu ini?“, salah satu pertanyaan dari pengajuan pertanyaan appresiatif. Mbak Muna dan saya merasakan hal yang sama, adanya kebahagiaan dan bersyukur dalam minggu ini. Salah satu kebahagiaan tersebut telah disebut pada jawaban sebelumnya, yakni bisa hadir seutuhnya bersama keluarga ketika proses #WorkFromHome.

Tentu hal-hal yang kami diskusikan bersama partner diatas dipengaruhi oleh faktor-faktor kesuksesan bulan ini berupa disiplin diri dan time management, dan yang paling utama yakni kontrol terhadap penggunaan waktu yang kita jalani sejatinya ada pada diri kita sendiri, yupss, diri sendiri gaes.

Adanya share meaning bersama yakni kita harus menghargai waktu, jangan sia-siakan waktu selama menjalankan #WorkFromHome dengan kegiatan yang kurang produktif, bermalas-malasan, dan tidak ada visi meningkatkan kapabilitas diri.

Bila ditanya berapa banyak dampak positif yang diterima sebagai hasil dari program CME ini ? Sebuah pertanyaan yang belum bisa kami menghitungnya untuk saat ini. Dampak positif untuk lingkungan kita, kinerja optimal, otoritas terhadap waktu yang dimiliki, dan mungkin dampak positif yang lain – lain. Kita tunggu saja dari masing-masing partner untuk menjawab di masa mendatang.

Koneksi positif yang terjadi dengan partner, kami sepakat adanya lebih banyak waktu bersama keluarga, dan lebih menghargai waktu yang sedang kita jalani.

Berbicara faktor utama yang memberi kehidupan ketika kita dalam kondisi terbaik, Saya sih simpel saja, diperlukan rasa optimis untukt terus dijaga, yang menuntut kita survive dengan perubahan bombastis seperti saat ini. Partner saya, mbak Muna mengatakan kita pun lebih melek keuangan ketika masa pandemi Covid-19 saat ini. Melek keuangan untuk memberi dampak positif, bergotong – royong kepada sesama yang membutuhkan, berupa donasi, berkontribusi pada lingkungan sekitar.

Tetap semangaat dan jangan terbius oleh Pandemi! 

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *